Kartu Indonesia Pintar Salah Satu Jurus Sakti Atasi Kemiskinan


Pendahuluan
Indonesia miskin? Tidak terlalu kok, sumber daya alam "buuaaannyaaak". Ya, tapi memang kesejahteraan di Indonesia masih belum merata. Seperti beberapa Provinsi yang mendapat predikat Provinsi termiskin di Indonesia salah satunya Aceh, NTT, Sulawesi Selatan, Papua dan sebenarnya masih banyak wilayah-wilayah yang bahkan tidak tersentuh akses pendistribusian barang dan pendidikan sama sekali, sehingga jauh sekali dari kata "sejahtera".

Pemerintah hanya diam?Tentu tidak. Banyak hal yang pemerintah usahakan untuk meratakan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun semua itu tidak semudah yang kita bayangkan. 

foto: Rusman Biro Pers
Salah satu bukti bahwa pemerintah tidak hanya diam terkait kesejahteraan ini. Ya, program "satu harga BBM di Papua" yang diterapkan oleh pak.Jokowi ini menunjukkan keseriusan pemerintah untuk memberantas kemiskinan, dan tentunya terkait dengan "keadilan sosial".  





Beberapa upaya lain yang pemerintah saat ini lakukan untuk mengurangi angka kemiskinan adalah dengan diluncurkannya 3 kartu sakti yakni ; KKS (Kartu Keluarga Sejahtera), KIP (Kartu Indonesia Pintar), dan KIS (Kartu Indonesia Sehat). Nah, meskipun saya sendiri belum begitu paham cara penggunaannya, dan saya juga belum pernah memegangnya secara langsung, tapi saya sangat tertarik dengan hal ini. Sebenarnya masih banyak program-program lainnya, namun yang akan saya ulas adalah tentang "Pendidikan". Emangnya pendidikan bisa mengatasi kemiskinan?

Pembahasan
Berikut gambaran penduduk Indonesia yang buta huruf berdasarkan kelompok usia (%).
 
Jika kita cermati grafik ini, penduduk yang buta huruf adalah mayoritas "orang tua" dengan usia 45 tahun lebih. Namun kita juga bisa melihat bahwa grafik itu cenderung selalu menurun per tahunnya. Itu artinya "kabar baik buat kita semua".
Lalu mengapa? Dengan merosotnya angka buta huruf ini, itu artinya program pendidikan cukup baik.
Lalu? Ya, artinya ada harapan untuk terlepas dari "Kemiskinan".
Apa hubungannya? Jelas, pendidikan tentu sangat berpengaruh terhadap kemiskinan.
Coba kita bahas.
 
Menurut Ragnar Nurkse (1953) dalam Mudrajat Kuncoro (2000) mengemukakan bahwa negara miskin itu miskin karena dia miskin (apoor country is poor because it is poor), kemiskinan dalam suatu negara tidak memiliki ujung pangkal, artinya negara miskin itu karena tidak memiliki apa - apa, dan dengan tidak memiliki apa - apa menyebabkan negara menderita kemiskinan. Itu dalah paradigma kemiskinan terdahulu. Kalau kita lihat berdasarkan paradigma ini seharusnya Indonesia tidak miskin dong? lalu kenapa Indonesia tidak kaya? Jawabannya karena tidak merata(sebagian saja yang memiliki "apa-apa". kenapa tidak merata? karena ketidak tahuan. Kenapa tidak tahu? Karena tidak belajar. Ya, kurang lebihnya seperti itu.

Masih dari sumber yang sama. Kemudian kita lihat paradigma baru tentang kemiskinan, di situ tertera "Sumber Daya". Artinya jika kita ingin terbebas dari kemiskinan, maka harus memiliki "Sumber Daya" yang baik, sumber daya alam maupun sumber daya manusia.
Bagaimana cara membuat sumber daya manusia yang baik? Jawabannya adalah "Pendidikan".

Pemerintah berharap, generasi muda dan seluruh warga Indonesia mendapatkan Hak Pendidikannya (miskin ataupun kaya). Sehingga pola pikir akan berkembang, pengetahuan bertambah, pengalaman semakin matang. Persaingan akan semakin ketat dan itu bisa menjadi dorongan bagi kaum terpelajar untuk terus berkembang. Sehingga kebiasaan-kebiasaan yang buruk seperti: (mohon maaf) mengemis atau minta-minta, menjadi gelandangan, mencuri, dll, itu dapat berkurang karena generasi muda sudah bermetamorfosa menjadi generasi yang cendekia, yang mampu berpikir dan mencari solusi minamal untuk mengatasi krisis keuangannya sendiri. Bayangkan jika semua masyarakat minimal SMA/MA/SMK?sedertajat, pastinya mereka minimal sudah punya bekal yang cukup untuk berwira usaha. Jika kehidupan masyarakatnya sejahtera, otomatis uang yang beredarpun akan besar dan menunjukkan taraf hidup yang masuk dalam kategori "Sejahtera".

Kalau tidak percaya, coba kita simak ini.
Jika pendapat diatas benar, maka jika grafik buta huruf menurun artinya pendidikan cukup baik. Sehingga angka kemiskinan seharusnya juga membaik. Karena keduanya memiliki hubungan yang positif. Mari kita perhatikan Indonesia dalam Angka berikut;

Indeks Kedalaman Kemiskinan pada September 2016 menurun menjadi 1,74 dari posisi Maret 2016 yang mencapai 1,94. Indeks kemiskinan pada akhir 2016 ini terendah sejak 2013. Selain itu, jumlah penduduk miskin pada September 2016 di Indonesia mencapai 27,76 juta orang (10,70 persen), berkurang sebesar 0,25 juta orang dibandingkan dengan kondisi Maret 2016 yang sebesar 28,01 juta orang (10,86 persen) "DataBoks".
 

Nah Sudah fix. Kemiskinan tahun 2016 turun. Itu menunjukkan memang pendidikan mempengaruhi kemiskinan. 

Lihat berita-berita terkait disini : DATABOKS

Kesimpulan
Dengan demikian sudah jelas, berdasarkan Data Statistik bahwa pendidikan memang perlu ditingkatkan. Semua warga negara punya hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan. Untuk itulah menurut saya "Kartu Indonesia Pintar Memang Salah Satu Jurus Sakti Atasi Kemiskinan". Semoga dengan adanya KIP ini semua bisa menjadi "Generasi Cendekia" yang mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik lagi nantinya.   
Jika dilihat dari data, kita tidak perlu malu untuk berkata "Saya Orang Indonesia".

Artikel ini diikutsertakan dalam DATABLOG COMPETITION
Previous
Next Post »